Non-Tritunggal: Maksud dari kata “kita” dalam Kejadian 1:26.

Berfirmanlah Elohim: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” [Kejadian 1:26]

Kata “Kita” dalam ayat ini telah menjadi salah satu senjata para penganut Tritunggal untuk mendukung teori mereka yang tidak Alkitabiah. Mereka mengajarkan bahwa kata “Kita” merujuk pada “tritunggal”. Dan argumen ini mereka perkuat dengan mengatakan bahwa kata “Elohim” dalam bahasa Ibrani berarti “jamak” atau “lebih dari satu”. Serta adapula yang mengajarkan bahwa: kata “Kita” merujuk pada “Bapa dan Anak” saja, karena menurut mereka Sang Anak ikut dalam proses penciptaan. Namun Alkitab berkata lain!

Sebagaimana yang sudah terungkap dalam artikel 3 Tips Sederhana untuk Memahami mengapa Tritunggal tidak Alkitabiah” bahwa dari sudut pandang iman orang Ibrani, Allah adalah Tuhan yang Esa maka sudah pasti penafsiran dari para penganut Tritunggal mengenai Kejadian 1:26 tidak bisa dipercaya. Dan tentu saja Alkitab berkata lain:

“Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, dan yang menghamparkan bumi  sendirian“. [Yesaya 44:24, KJV].

“Akulah TUHAN yang menjadikan segala-galanya, yang sendirian membentangkan langit, dan tanpa bantuan menjadikan bumi”. [Yesaya 44:24, BIS].

“Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi  â€”  siapakah yang mendampingi Aku?  â€”  [Yesaya 44:24, TB].

[Dia] yang seorang diri membentangkan langit. [Ayub 9:8].

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Yahuwah sendirian menjadikan segala sesuatu pada masa penciptaan, Dia melakukannya tanpa bantuan. Begitupun saat Dia ingin menciptakan manusia, Dia sendirian melakukannya tanpa bantuan. Dan hal ini sebenarnya pun sudah diperjelas di ayat selanjutnya:

Maka Elohim menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Elohim diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. [Kejadian 1:27]

So Elohim created man in his own image, in the image of God created he him; male and female created he them. [Genesis 1:27, KJV]

Sekilas di dalam bahasa Indonesia tidak nampak bahwa Yahuwah sendirian saat menciptakan manusia karena akhiran “Nya” di dalam bahasa Indonesia tidak spesifik, namun di dalam bahasa Inggris, itu sudah sangat jelas dimana kata pengganti yang digunakan adalah “his” dan “he”, itu adalah kata “tunggal”, yang menyatakan dengan pasti bahwa Yahuwah sendirian pada saat itu, dan ini sekaligus mematahkan argumen bahwa pemilihan kata “Elohim” dalam ayat ini harus diartikan “jamak”. Di dalam Alkitab kata “Elohim” tidak selalu berarti jamak karena berulang kali Alkitab merujuk “Elohim” hanya pada “satu pribadi tunggal” seperti yang nyata dari ayat di dalam kejadian ini.

Tapi Mengapa Alkitab menggunakan kata “Kita”?

Menarik untuk diketahui mengapa Alkitab menggunakan kata “Kita” dalam kisah penciptaan manusia. Tetapi jika Dia sendirian pada saat menciptakan alam semesta dan segala isinya termasuk manusia, maka bersama “siapakah” Dia disana? Kitab Amzal pasal 8 memberikan kita jawabannya:

Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya? … ia berseru dengan nyaring:”Hai para pria, kepadamulah aku berseru, kepada anak-anak manusia kutujukan suaraku…. TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada.
Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir; Sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu dataran yang pertama. Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya, ketika Ia menetapkan awan-awan di atas, dan mata air samudera raya meluap dengan deras, ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi, aku ada serta-Nya… [Amzal 8]

Jadi yang menemani Yahuwah pada saat penciptaan sehingga Alkitab menggunakan kata “kita” adalah Hikmat-Nya sendiri. Hikmat di dalam Alkitab di personifikasikan sebagai seorang “perempuan”, yang dalam bahasa Inggris menggunakan kata ganti “She” dan “Her”. Yang menarik di dalam kitab Amzal inipun nampak jelas bahwa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi adalah Tuhan yang Esa, yang diindikasikan melalui kata “He” dan “Him”, seperti yang nampak dalam versi KJV berikut:

Does not Wisdom call, Does not understanding raise her voice?…. she cries aloud, ‘To you, O men, I call, and my cry is to the sons of men’…. The Lord acquired me in the beginning, at the dawn of his work. I was poured out from eternity at the dawn of the earth. When there was no deep I was brought forth. Before the mountains were settled, Before the hills was I brought forth. While as yet he had not made the earth, nor the fields, nor the beginning of the dust of the world. When He established the heavens, I was there….Then I was by Him…”. [Proverbs 8].

Penafsiran yang mengatakan bahwa “kita” adalah Bapa dan Anak pun menjadi gugur karena catatan dalam kitab Amzal ini. Ironis bahwa banyak orang yang membaca Amzal pasal 8 dan menafsirkan “Hikmat” sebagai “Son of Yahuwah” [baca: Yahushua], karena dengan melakukan itu mereka melupakan fakta bahwa “hikmat” ber-genre “perempuan”, sesuatu yang tidak mungkin bisa dilekatkan pada Yahushua yang ber-genre “laki-laki”.

Lebih jauh, mengajarkan keyakinan bahwa Sang Anak sudah ada sebelum dunia dijadikan akan memberi implikasi yang bertentangan dengan seluruh Alkitab, karena itu akan berarti bahwa ada ‘allah’ lain selain El yang Esa, atau setidaknya akan mengajarkan bahwa ada pribadi yang setara dengan “EL”. Pengajaran seperti itu tidak akan konsisten dengan iman Ibrani yang menjadi sumber dari iman Kristen yang sejati.

Kesimpulan

Catatan di dalam kitab Kejadian 1:26 menceritakan konteks tindakan penciptaan yang di lakukan oleh Yahuwah. Alkitab memberi tahu kita bahwa semua hal diciptakan dalam Hikmat Yahuwah. Ini termasuk manusia. Umat manusia adalah puncak dari ciptaan Yahuwah dan Yahuwah memberkati umat manusia untuk menguasai semua ciptaan-Nya yang diciptakan dalam Hikmat-Nya.

“Betapa banyak karya-Mu, Yahuwah, semuanya Kaujadikan dengan hikmat; bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104: 24).

“Dengan hikmat Yahuwah telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit”. (Ams 3:19).

“Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya.” (Yeremia 10:12).

Sebagai pelengkap, ada satu catatan menarik di dalam Kitab Kejadian setelah kejatuhan manusia yang mengatakan:

Berfirmanlah Elohim Yahuwah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat… [Kejadian 3:22]

Pertanyaannya: apa yang membuat Hawa berdosa? Keinginan untuk mengetahui yang baik dan yang jahat! Hawa memakan buah terlarang karena saat dilihatnya, buah itu: menarik dan menambah pengertian [hikmat]! [Kejadian 3:5-6]

Jadi “kita” adalah “Yahuwah” dan “Hikmat-Nya”. Dengan bahasa sederhana di sini Yahuwah berbicara dengan diri-Nya sendiri. Tidak perlu heran, karena kita pun sering melakukannya, pemazmur di dalam Alkitab pun sering melakukannya dengan berkata: “Bersoraklah hai jiwaku”, “Pujilah Tuhan hai Jiwaku” dan lain-lain. Dan karena kita diciptakan serupa dan segambar dengan Yahuwah maka penafsiran ini menjadi sangat beralasan.

Maka Elohim menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Elohim diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. [Kejadian 1:27]

Manusia diciptakan laki-laki dan perempuan sesuai dengan gambaran Yahuwah [laki-laki] dan Hikmat-Nya [perempuan]. Itulah poin yang ingin disampaikan dalam Kejadian 1:26 ini.

Sementara penafsiran yang diberikan oleh para penganut tritunggal hanya sebuah upaya untuk mengartikan sesuatu yang sebenarnya tidak tertulis dalam lembaran-lembaran suci.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s