Pendeta juga Manusia

Pengalaman telah mengajarkan kita banyak hal tentang para pemimpin-pemimpin rohani kita di bumi ini. Mereka juga manusia sama seperti kita orang-orang awam. Mereka juga bisa salah. Adalah sebuah tindakan yang tidak bijak jika kita sampai melepaskan iman kita kepada Yahuwah dan Yahushua hanya karena kita menemukan kesalahan pada para pendeta. Terlepas dari kesalahan yang sangat mungkin dapat dilakukan oleh para pemimpin-pemimpin agama, kita perlu dengan sikap bijaksana mengikuti ajaran yang benar dari mereka dan melupakan sisanya.

Seorang guru pada suatu saat dalam hidup mereka pernah menjadi seorang murid. Jika dia telah menjadi seorang murid yang baik, maka dia dapat menjadi guru yang baik, namun jika dia bukan murid yang baik maka diapun akan kesulitan menjadi guru yang baik. Murid yang baik bukan hanya dinilai baik karena sikapnya yang taat tetapi juga pada usahanya mempelajari apa yang ditaati itu. Sekalipun memiliki kecerdasan yang tinggi, seorang murid dapat menjadi bodoh jika dia mengikuti ajaran-ajaran tanpa menyelidikinya terlebih dahulu. Demikianlah juga para pendeta, yang adalah guru jemaat. Jika mereka selama masa menjadi murid telah mempelajari dengan seksama semua hal yang sekarang mereka lakukan dan ajarkan maka mereka dapat menjadi pendeta yang baik, tetapi jika tidak maka mereka dapat menjadi pemimpin buta yang akan menjerumuskan banyak orang.

Lahirnya banyak denominasi akibat perbedaan pola penafsiran Alkitab membuat peluang terjadinya kesalahan pengajaran semakin besar. Ini adalah fakta yang mengerikan secara rohani bagi mereka yang benar-benar tulus mengasihi Pencipta mereka. Kita saat ini hidup di dalam sebuah dunia yang “suam-suam kuku” pada kebenaran. Kita mewarisi ketidaktaatan yang besar dari generasi ke generasi. Dan akhirnya sekarang banyak orang yang berada di dalam gereja yang tidak lagi memiliki pendirian yang teguh mengenai definisi sebuah dosa!

Telah lahir dan tampil banyak orang yang menjadi “pendeta-pendeta kenamaan”. Khotbah-khotbah mereka, dipuji. Mujizat-mujizat mereka, nyata di depan mata. Kata-kata mereka untuk memotivasi jemaat, menggetarkan dada. Namun sebagaimana asalnya, mereka adalah manusia. Mereka memang “bersatu” dalam mengajarkan hal-hal umum mengenai kasih, kesabaran, dan pengharapan, namun mereka telah menunjukkan kesalahan mereka sendiri dengan cara mengajar hal-hal dasar dari iman Kristen berdasarkan ajaran denominasi mereka masing-masing, mereka nampaknya tidak berniad keluar dari kotak-kotak itu. Jadi adalah tidak mungkin untuk menerima pengajaran menyeluruh mengenai kalender Alkitab dari pendeta Katholik karena mereka telah didoktrin untuk meninggikan kalender Masehi. Adalah tidak mungkin untuk mendapat pengajaran sepenuhnya mengenai Hari Sabat dari pendeta Protestan karena mereka telah didoktrin untuk meninggalkan pengudusan Sabat. Adalah tidak mungkin untuk mendapat pengajaran yang jernih mengenai Sepuluh Perintah dari pendeta Karismatik dan Pantekosta karena mereka telah didoktrin untuk mengabaikan Taurat.

Ironi ini membuat banyak jiwa sedang menuju jurang kebinasaan, karena mereka merasa jalan yang mereka lewati hari ini adalah lurus padahal ujungnya menuju maut. Patokan pengajaran para pendeta moderen bukan lagi Alkitab tetapi tradisi gereja. Dunia telah kembali sama seperti keadaan dua ribu tahun lalu ketika para pemimpin-pemimpin rohani telah menjadi begitu pandai mengabaikan perintah-perintah Bapa Yahuwah demi melakukan tradisi nenek moyang yang tidak Alkitabiah. Benarlah kata Sang Juruselamat bahwa angkatan yang jahat ini tidak akan berlalu sampai tiba kesudahannya.

Sejatinya Alkitab adalah buku yang bertujuan untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran, dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Yahuwah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik [2 Timotius 3:16,17] namun sayangnya, tempatnya telah digantikan oleh ajaran-ajaran manusia bernama tradisi nenek moyang!

Pendeta juga manusia. Mereka bisa melakukan kesalahan. Karena itu sebagai anggota jemaat, jadilah jemaat yang bijaksana. Terimalah pengajaran yang memiliki dasar kuat dari dalam Alkitab dan abaikanlah pengajaran yang hanya berdasarkan pada asumsi dan tradisi belaka. Karena itu sebagai pendeta, jadilah pendeta yang mengajarkan hanya ajaran murni Alkitab, jangan meninggikan tradisi melebihi Kitab Suci, sampaikanlah kepada jemaat Nama Bapa dan Anak yang asli, sampaikanlah secara penuh kepada jemaat apa kata Alkitab mengenai hari Sabat, sampaikanlah kepada jemaat kalender apa yang digunakan Alkitab untuk menentukan Sabat Alkitab, sampaikanlah semua kebenaran mengenai asal usul konsep Tritunggal, mengenai perubahan hari Paskah yang semula hari kematian berdasarkan kalender lunisolar, menjadi hari Minggu berdasarkan kalender Masehi. Sampaikanlah semua kebenaran yang bahkan tidak bisa disebutkan satu-satu dalam tulisan singkat ini. Ingatlah bahwa: sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal [Yakobus 3:1,2].

Dan akhirnya,demi nasib kekal anda perhatikanlah peringatan Sang Juruselamat ini:

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias [Matius 23:8-10].

Rabi/guru/pendeta dan pemimpin utama kita hanya satu yaitu Yahushua, Dialah Teladan kita, Dialah acuan kita, ajaran-Nyalah kata akhir bagi kita. Bapa kita yang harus kita dengar hanya satu yaitu Yahuwah, perintah-Nyalah yang harus kita ikuti.

image

Alkitablah kata akhir bagi kita. Firman Yahuwah adalah landasan utama kita. Ajaran Yahushua adalah patokan dasar kita. Jika kita menjadi orang-orang Berea moderen yang mendengar khotbah dan kembali memeriksa kesesuainnya dengan Kitab Suci maka tentulah kita tidak akan larut dalam tradisi dunia yang menentang kehendak Bapa Yahuwah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s