Biasakan yang Benar Bukan Membenarkan yang Biasa

Semakin hari dunia sebenarnya sudah semakin sadar bahwa ada banyak kebiasaan-kebiasaan salah yang telah kita warisi yang seharusnya tidak lagi dilakukan. Hal ini juga terungkap dalam kata-kata bijak yang saat ini sudah semakin sering kita dengar: “biasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa”. Jadi kita mengetahui bahwa, untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik kita perlu dengan teliti merubah semua kebiasaan-kebiasaan kita yang keliru, yang berdasarkan standar-standar hidup yang salah.

Namun perlu disadari sebaik-baiknya bahwa perubahan-perubahan yang perlu dilakukan bukan hanya hal-hal yang berkaitan dengan hidup duniawi tetapi juga, bahkan menjadi yang paling penting, kita juga harus melakukan perubahan-perubahan pada praktek-praktek rohani yang selama ini kita lakukan.

image

Di bumi ini tidak satu pun manusia yang sempurna, dan secara otomatis tidak satu pun organisasi keagamaan yang sempurna karena semua organisasi ini terdiri dari orang-orang yang juga tidak sempurna. Namun syukur kepada Bapa Yahuwah di Surga yang tidak pernah membiarkan kita sendirian tanpa petunjuk. Kita memiliki Kitab Suci yang dapat kita jadikan sebagai patokan dari perbuatan-perbuatan kita secara umum, bahkan secara khusus Alkitab, tanpa keraguan, dapat kita jadikan acuan untuk menentukan praktek-praktek kerohanian yang kita lakukan.

img_2324

Persoalan terbesar yang dihadapi oleh generasi akhir zaman adalah kurangnya kesadaran bahwa: jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari [Amsal 4:18]. Jadi akan ada “perkembangan” atau “pertumbuhan” yang harus dilalui oleh semua orang percaya. Akan ada hal-hal yang sebelumnya telah dijalani [dilakukan] selama beberapa waktu yang di kemudian hari akan “dengan terbukanya terang yang lebih besar” terbukti salah dan harus ditinggalkan. Tepat seperti perkembangan cahaya dari saat fajar ketika terang itu masih “remang-remang”, kemudian perlahan menjadi lebih terang pada saat pagi hingga sampai rembang tengah hari ketika terang itu telah menjadi “sempurna”.

Adalah sesuatu yang sangat wajar ketika dalam praktek-praktek kerohanian ada kegiatan-kegiatan tertentu yang harus diubah dan atau ditinggalkan, patokan perubahannya tentu adalah Alkitab itu sendiri, itulah yang menjadi patokan kita untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah, karena Alkitab adalah firman Yahuwah yang diilhamkan dan karena langkah-langkah kita ditetapkan oleh Yahuwah [Amsal 20:24].

image

Disinilah sikap positif dan fikiran yang terbuka dari seseorang diperluhkan, ketika datang ujian untuk memilih menerima terang yang baru atau tetap tinggal dalam remang-remang fajar. Pada hari ini, Surga terus menerus menambahkan pengetahuan ke dalam dunia sebagaimana yang telah dinubuatkan dalam kitab Daniel bahwa pada akhir zaman pengetahuan akan bertambah [Daniel 12:4]. Banyak orang yang tetap berpegang pada tradisi yang tidak berlandaskan Alkitab, karena berfikir bahwa segala sesuatu yang telah dilakukan selama bertahun-tahun sudah bebas dari kesalahan. Banyak orang yang telah merasa memiliki semua terang yang ada, sehingga mereka tidak mau lagi menerima terang yang baru. Mereka merasa kaya dalam pengetahuan dan tidak lagi kekurangan apa-apa.

Bagi anda yang benar-benar ingin mengambil bagian dalam kehidupan yang kekal, perhatikanlah baik-baik nasihat ini: “Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat [Wahyu 3:18].

Ada banyak hal yang harus kita tinggalkan dan lupakan [seperti konsep Tritunggal, pengudusan hari Sabtu dan hari Minggu] serta ada banyak pengetahuan baru yang terus bertambah seperti cahaya fajar yang harus kita tindak lanjuti [seperti Sabat Lunar, Kalender Alkitab, Nama Kudus dari Bapa dan Anak], bahkan jika sekalipun itu semua adalah merupakan kebenaran yang tidak enak.  Marilah kita, dengan menggunakan Alkitab memurnikan semua tradisi-tradisi kita, marilah kita membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.

image

Iklan

2 thoughts on “Biasakan yang Benar Bukan Membenarkan yang Biasa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s