2 Kepercayaan Salah Tentang Orang Mati

“Berpulang ke rumah Bapa”

“Semoga diterima di sisi-Nya”

Berapa banyak orang yang pernah anda dengar mengatakan kalimat seperti ini untuk menyikapi orang yang baru meninggal? Alkitab mengungkap keadaan di dunia orang mati dengan cukup jelas, namun masih banyak orang yang belum memahaminya dengan baik. Ada banyak praktek-praktek salah di dunia Kekristenan akibat dari pemahaman salah mengenai keadaan orang yang sudah meninggal. Berikut ini adalah 2 Kesalapahaman umum yang dipercayai tentang orang yang sudah meninggal.

1. Mempercayai Bahwa Orang Meninggal Langsung Pergi Ke Surga/Neraka

Dua kalimat di awal tulisan ini sangat sering kita dengar diucapkan orang ketika ada famili atau kerabat yang meninggal. Ungkapan ini secara tersirat merupakan doa dan harapan bagi yang sudah meninggal namun sekaligus juga mengungkap pemahaman dangkal kebanyakan orang mengenai keadaan setelah mati bahwa orang yang mati akan langsung pergi ke Surga atau ke Neraka.

Pemahaman seperti ini sering berasal dari kesalahpahaman pada beberapa ayat-ayat tertentu di dalam Alkitab, seperti:

Dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Elohim yang mengaruniakannya [Penghotbah 12:7]

Roh yang kembali kepada Yahuwah di ayat ini bukanlah sebuah “roh/jiwa tanpa tubuh” yang melayang-layang sebagaimana anggapan banyak orang.

Akar kata “roh” berasal dari bahasa Yunani “pneuma”, sebuah kata yang artinya “nafas” atau “udara”. Kata “nafas” dan “roh” sering digunakan secara bergantian di dalam Alkitab. Seperti contoh:

selama nafasku masih ada padaku, dan roh Eloah masih di dalam lubang hidungku [Ayub 27:3]

Apa yang keluar melalui lubang hidung kita? Jawabannya adalah udara yang kita hirup.

Kej. 2:7 mengatakan: “ketika itulah Yahuwah Elohim membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”.

“nafas hidup” dalam Kej. 2:7 pada dasarnya adalah “roh Eloah” yang ada di Ayub 27:3. Demikianlah raja Salomo merujuk kematian di dalam Pengkotbah 12:7 seperti yang terlihat di ayat diatas, roh atau nafas kembali kepada Elohim yang mengaruniakannya.

Konsep seperti itu terlihat di seluruh Alkitab:

Apabila Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil nafas mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi [Maz. 104:29,30, KJV]

Disini kita melihat bahwa nafas diambil kembali oleh Yahuwah ketika kita meninggal dan di dalam Pengkhotbah 12:7 kita melihat bahwa roh kembali kepada Yahuwah pada waktu kematian, hal ini menunjukkan bahwa dua kata ini digunakan secara bergantian untuk mengungkapkan sesuatu yang sama.

Adalah penting untuk diketahui bahwa “roh kehidupan” tidak sama dengan Roh Kudus, tapi itu adalah “nafas kehidupan” yang sama dengan nafas yang kita hirup.

Pada waktu kematian, segala sesuatu kembali ke asalnya, debu kembali ke tanah dari mana dia diambil, dan roh kembali kepada sumbernya yaitu Yahuwah. Konsep ini sesuai dengan kisah penciptaan manusia, “ketika itulah Yahuwah Elohim membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” [Kej. 2:7].

Ada sebuah kekuatan pemberi kehidupan, yaitu nafas kehidupan, yang dimiliki oleh semua makhluk ciptaan yang hidup.

Kematian sebenarnya adalah kebalikan dari penciptaan. Yakobus 2:26 menjelaskan bahwa: “tubuh tanpa roh adalah mati”.

Roh [nafas] + Tubuh [debu] = Mahkluk [jiwa] yang hidup

Roh [nafas] – Tubuh [debu] = Mati [tanpa jiwa]

Sebuah “jiwa” tidak bisa hanya sekedar roh tanpa tubuh, karena dibutuhkan baik nafas kehidupan maupun tubuh untuk membentuk sebuah jiwa!

Tanpa tubuh, jiwa tidak abadi. Itulah sebabnya “ada kebangkitan orang mati”. Jika jiwa bisa kekal tanpa tubuh maka tidak perlu ada kebangkitan orang mati!

Kita ambil contoh pada sebuah komputer. Arus listrik yang mengalir ke komputer adalah nafas kehidupan yang diberikan oleh Yahuwah kepada jiwa. Ketika anda mematikan sebuah komputer maka arus listrik [roh kehidupan] itu akan kembali ke sumbernya, tetapi bagaimana dengan data yang ada di dalam komputer itu? apakah data itu ikut menghilang bersama dengan arus listrik yang menghidupkan komputer itu? Tidak! Data itu tetap ada di dalam komputer itu sampai komputer itu dinyalakan kembali, hal ini sama dengan kematian, jiwa tidak pergi bersama nafas kehidupan.

Jadi jelaslah bahwa orang yang sudah meninggal tidak langsung pergi ke surga atau neraka.

Ayat lain yang sering membuat orang salah paham bahwa pada waktu meninggal seseorang langsung dibawah ke surga adalah:

Kata Yahushua kepadanya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, hari ini engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” [Lukas 23:43, KJV]

Apakah ayat ini membuktikan bahwa ADA kehidupan SEGERA setelah kita meninggal? Mari kita mengkajinya.

Bentuk asli dari ayat ini ditulis dalam bahasa Yunani. Bahasa Yunani tidak memiliki tanda baca. Kata keterangan “semeron” yang artinya “hari ini”, berdiri diantara dua kalimat “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu” dan “engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”. Dalam tata bahasa Yunani penggunaan kata keterangan boleh diletakkan di bagian mana saja di dalam sebuah kalimat, tergantung keinginan dari orang yang mengatakannya atau yang menulisnya.

Cara yang sangat mudah untuk memutuskan bagaimana maksud sebenarnya dari ayat ini, dapat kita lihat pada peristiwa yang terjadi kemudian. Pada hari ketiga setelah kematian-Nya, Yahushua berkata kepada Maria:

Aku belum pergi kepada Bapa” [Yoh. 20:17]

Jadi karena tiga hari setelah kematian-Nya, Yahushua belum pergi ke surga maka secara otomatis Dia belum ada di surga pada hari ketika Dia disalibkan. Sehingga pencuri itu tidak bisa ada bersama-sama dengan Yahushua pada hari itu juga.

Perlu dicatat bahwa karena tidak ada tanda baca dalam bahasa aslinya maka kita dapat yakin bahwa tanda koma yang ada di dalam ayat ini telah ditambahkan oleh orang yang menerjemahkan ayat ini, yang menyebabkan orang-orang awam mengartikan salah ayat ini.

Dengan kesalahan penggunaan tanda koma ini, sang penerjemah telah menggiring para pembacanya untuk meyakini bahwa orang yang meninggal langsung menerima upahnya pada saat dia mati, sebuah ajaran yang bertolak belakang dengan Alkitab, yang tidak pernah diajarkan baik oleh Yahushua maupun oleh para penulis kitab Perjanjian Baru.

Maka sesuai dengan Alkitab, tanda koma pada ayat ini seharusnya diletakkan SETELAH kata “hari ini” dan BUKAN SEBELUMNYA;

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu hari ini, engkau AKAN ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” atau “Hari ini Aku berkata kepadamu, engkau AKAN ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”.

Satu-satunya hal yang dikuatirkan oleh pencuri itu pada saat di salib adalah BUKAN nasibnya pada hari itu, TAPI mengenai nasibnya pada kedatangan kedua Yahushua.

Yahushua, ingatlah akan aku, APABILA Engkau datang sebagai Raja” [Luk. 23:42]

Jadi sebenarnya dalam kesempatan ini, Yahushua ingin memberikan jaminan kepastian kepada pencuri ini bahwa Yahushua AKAN memasukkan pencuri itu ke dalam surga APABILA Dia nanti datang kembali!

Alkitab konsisten bahwa orang mati tidak langsung menerima upahnya segera setelah dia meninggal.

2. Mempercayai Bahwa Jiwa Tetap Hidup Setelah Tubuh Mati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s