Pola Penafsiran Kitab Suci

Pertanyaan yang muncul di dalam hati saya ketika milihat kondisi gereja zaman sekarang adalah: Mengapa kita memiliki begitu banyak denominasi dan ajaran-ajaran yang berbeda? Padahal kita berasal dari satu akar yang sama, memiliki Eloah yang sama dan memiliki Kitab Suci yang sama pula!

Pokok permasalahannya terdapat pada “pola penafsiran Kitab Suci”. Jika seseorang yang tidak mengenal eksistensi Eloah dan kehendak-Nya yang kekal menafsirkan kitab suci maka orang itu akan melahirkan pengertian-pengertian yang berbeda dan akhirnya akan membentuk sebuah perkumpulan yang berbeda pula.

Kesalahan fatal manusia adalah membawa pengetahuan yang dimilikinya ke dalam firman Yahuwah sehingga penafsirannya menjadi penafsiran yang dibumbuhi dengan pengetahuan manusia yang sangat mungkin mengandung kesalahan. Aturan yang benar yang harus kita lakukan dalam menafsirkan firman Yahuwah adalah dengan mengeluarkan pengetahuan murni yang ada di dalam firman itu, bukan menambahkan pengetahuan manusia ke dalam firman itu.

Jadi jika kita membaca sebuah ayat dan kita tahu bahwa di ayat lain sepertinya membicarakan hal yang bertentangan dengan itu, janganlah terburu-buru mengambil kesimpulan, galilah lebih dalam dan ijinkan Roh Kebenaran itu membimbing kita untuk mengerti karena Alkitab itu dituliskan oleh ilham-Nya sendiri, Dialah yang paling tahu maksud dari setiap kata yang ada.

Alkitab yang harus mengartikan dirinya sendiri, jangan biarkan fikiran dan pendapat kita masuk ke dalamnya. Alkitab harus dipelajari dengan membandingkan ayat demi ayat bukan mengambil ayat tertentu untuk mendukung pendapat kita

Tebalnya Alkitab dan banyaknya ayat yang terkandung di dalamnya membuat banyak orang gagal menemukan intisarinya, secara keseluruhan Alkitab berisikan peristiwa-peristiwa yang mengisahkan atau menceritakan perjalanan hidup manusia di bawah kolong langit dalam hubungannya dengan Elohim yang ada di tempat yang Mahatinggi. Semua kisah-kisah yang tercatat di dalam Alkitab menggambarkan kepada kita bagaimana Yahuwah pertama-tama menyatakan kehendak-Nya dan kemudian diikuti dengan pilihan manusia, yaitu bagaimana manusia melakukan dan atau tidak melakukan kehendak-Nya itu.

Intisari Alkitab adalah:
Eksistensi Yahuwah dan kehendak-Nya yang kekal

Eksistensi Yahuwah di dalam Roh itulah yang saya maksudkan. Kurangnya pengetahuan akan hal ini menyebabkan orang-orang Kristen tidak mengerti prinsip-prinsip di dalam dunia roh dan akhirnya menyeret generasi ini menjadi generasi yang jauh dari Yahuwah. Yahuwah adalah Roh dan setiap orang yang ingin menyembah-Nya harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran, salah satu karakteristik Yahuwah adalah kekekalan-Nya, Dia tidak perna berubah!.

Selama manusia merasa bahwa Yahuwah bisa berubah dan bisa diubah maka selama itulah manusia tidak akan pernah mengenal Yahuwah dengan benar. Selalu ada sebab dibalik akibat, sebab berubahnya sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lain yang lebih besar dan lebih berkuasa dari yang pertama itu, jadi menganggap Yahuwah dapat berubah dan bisa diubah sama artinya dengan mengatakan bahwa ada yang lebih baik dari Dia.

Jika kita memperhatikan Kitab Suci secara keseluruhan sambil lalu, maka kita akan menemukan banyak perbedaan dan pertentangan, karena hal inilah maka akhirnya banyak orang telah salah dalam memahami Kitab Suci.

Alasan satu-satunya mengapa ayat-ayat di dalam Kitab Suci nampak bertentangan satu sama lain adalah bukan karena Yahuwah itu tidak konsisten tetapi karena pengetahuan kita akan hal itu masih kurang.

Kitab Suci adalah buku tentang Yahuwah, yaitu Yahuwah yang konsisten, yang tidak perna berubah, dari kitab pertama sampai pada kitab terakhir sejatinya tidak ada pertentangan, semua saling mendukung satu-sama lain menggambarkan konsistensi Yahuwah dan kehendak-Nya yang kekal.

Generasi masa kini adalah generasi “kepedean” yang merasa bahwa mereka mengenal dan dekat dengan Yahuwah padahal sesungguhnya begitu buta dan jauh dari Yahuwah. Sekiranya generasi ini mengenal Yahuwah maka generasi ini tidak akan mengikuti tradisi yang bertentangan dengan Kitab Suci. Benarlah Yahuwah melalui Kitab Suci dalam Matius 15:8,9 berkata:

Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya,
padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
Percuma mereka beribadah kepada-Ku,
sedangkan ajaran yang mereka ajarkan adalah perintah manusia.

Gereja zaman sekarang dipenuhi dengan orang-orang yang walaupun rajin ke gereja namun malas mempelajari Alkitab, ibadah dipinggirkan di sudut hati dan menjadi sekedar rutinitas mingguan. Setan tertawa melihat banyak orang Kristen menjadi seperti “benih yang jatuh di pinggir jalan” yang hanya dengan satu “patukan” langsung habis, tanpa memiliki kesempatan untuk berakar apalagi tumbuh dan menghasilkan buah.

Padahal kita telah hidup di zaman di mana segala pengetahuan telah dibuka dengan limpahnya dan semua orang dapat mempelajari Alkitab dengan bebas, mulai dari manuskrip asli sampai terjemahan Ibrani dan Yunani asli dapat kita temukan di dunia internet saat ini.

Jika hari ini seseorang memiliki HP yang terkoneksi dengan internet namun dia tidak mengetahui kebenaran tentang Sabat Lunar, kalender Alkitab, kepalsuan tritunggal, dll, dapat dipastikan bahwa dia tidak benar-benar peduli dengan hal-hal rohani.

image

Kebanyakan orang Kristen saat ini telah mempertaruhkan nasib kekekalan mereka kepada para pemimpin gereja, para gembala sidang, para pendeta jemaat dan ahli-ahli theologia di mana mereka beribadah. Mereka menerima pengajaran apa adanya, berdasarkan pola penafsiran kitab suci denominasinya, tanpa memeriksa kebenarannya di dalam Kitab Suci.

Semua hal yang dikatakan dari atas mimbar akan dipercaya oleh setiap jemaat yang mendengarnya. Tidak banyak lagi jemaat zaman sekarang yang mengikuti cara hidup orang-orang Yahudi di Berea yang setelah mendengar pemberitaan firman kembali menyelidiki Kitab Suci untuk memastikan kebenarannya [Kisah Rasul 17:11].

image

Jika anda tidak mau tersesat jadikanlah Alkitab satu-satunya patokan anda, bukan pada ajaran manusia, dan ingatlah firman ini:

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias [Matius 23:8,-10].

Jadi Bapa kita hanya satu, yaitu Yahuwah, dengarlah dan ikutilah perintah-Nya! Rabi/Guru dan Pemimpin kita hanya satu, yaitu Yahushua, ikutilah teladan-Nya!  Tinggalkan semua ajaran-ajaran yang hanya berdasarkan tradisi manusia!

Pola penafsiran Alkitab yang benar adalah:

Setiap perintah harus berdasarkan pada perintah, setiap pengajaran harus berdasarkan atas pengajaran, baris demi baris dan baris demi baris (harus dibandingkan), dibagian ini sebagian dan dibagian sana sebagian (harus disamakan) [baca Yesaya 28:10, terjemahan langsung].

JIKA SEMUA HAL ITU TIDAK SESUAI DENGAN FIRMAN Yahuwah, itu adalah pertanda bahwa Yahuwah tidak mengutus mereka dan mereka mengajarkannya oleh karena mereka hidup di dalam kegelapan dan tidak mengenal kebenaran [Yes. 8:10].

ITULAH PATOKAN KITA, DAN ITULAH JAMINAN YANG PASTI BAGI KITA!

Bandingkanlah ayat dengan ayat, pasal dengan pasal, dan terakhir lihatlah kehidupan mereka yang menuliskan ayat-ayat dan pasal-pasal itu, apa yang mereka lakukan? karena terlalu sering seseorang mengutip kitab suci sepotong-sepotong, mengambilnya keluar dari konteksnya, dan kemudian mengajarkan hal yang salah pada orang lain tanpa memperhatikan bagaimana cara hidup mereka yang menulis bagian-bagian itu.

Paulus adalah contoh terbaik dalam persoalan ini, tulisan Paulus adalah yang terbanyak dibelokkan oleh pengajar-pengajar moderen, mereka mengutip ayat-ayat tulisan Paulus dan kemudian membenarkan tradisi mereka beribadah di hari minggu atau hari sabtu yang dengan demikian menuntun banyak orang untuk melanggar Sabat.

image

Jadilah bijak! Lihatlah kehidupan Paulus, apa yang dia lakukan? Apakah dia perna melanggar Sabat? Tidak pernah!

KARENA ITU BELAJARLAH SENDIRI, JANGAN BERGANTUNG PADA SIAPAPUN AGAR NASIB ABADI KITA TIDAK DIPERTARUHKAN

Karena percuma kita menjadi kristen jika pada akhirnya kita tidak selamat, dan percuma kita percaya Yahushua jika pada akhirnya kita kedapatan tidak setia [Mat. 24:45-51].

Iklan

2 respons untuk ‘Pola Penafsiran Kitab Suci’

  1. Injil yang saya baca adalah Injil berbahasa Indonesia. Ini sudah pasti hasil terjemahan. Karena terjemahan pasti salah ? Walauhualam, hanya Bapa yang tahu. Apakah Injil yang penulis baca/punya Injil berbahasa Ibrani dan asli? Mungkin iya, sehingga penulis menyimpulkan benar.Kalau Injil yang penulis punya juga hasil terjemahan, maka juga mungkin salah. Pepatah mengatakan sesama supir dilarang mendahului. Maka sesama yang salah seharusnya tidak usah saling menyalahkan. Mari kita berjalan pada arah yang salah, Yang benar walauhualam hanya Bapa yang maha mengetahui.

    1. Pengetahuan sudah terus bertambah sesuai nubuatan kitab suci, maka kepada mereka yang mau mempelajari Alkitab hari ini, telah tersedia semua jenis bahasa, juga sudah tersedia bahasa asli yang akan menjadi patokan. Disini kita bukan hendak saling mendahului dalam hal kesalahan namun sebagaimana pesan kitab suci kita harus waspada, supaya di antara kita jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Eloah yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kita yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa. Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s