Penyebab Yahudi Moderen Tidak Menguduskan Sabat Lunar

Alasan utama para pemelihara Sabat-Sabtu menguduskan hari Sabtu sebagai hari Sabat adalah karena umat Yahudi moderen beribadah pada hari Sabtu dan menjadikan hari sabtu sebagai sabat Alkitab. Bagi mereka umat Yahudi TIDAK MUNGKIN meninggalkan Sabat yang sejati, namun laporan Alkitab dan fakta sejarah BERTOLAK BELAKANG dengan asumsi ini.

Di dalam Alkitab kita dapat menemukan begitu banyak catatan mengenai kekerasan hati anak-anak Israel melawan kehendak Yahuwah, secara khusus perintah ke-4. Dimulai dari masa keluaran dari tanah Mesir mereka sudah melanggar dan bahkan mereka di buang ke Babel karena alasan yang sama: melanggar Sabat! [baca: Kel. 12:27,28; Bil. 15:32-36; Neh. 9:14-16; 13:15-18; Yer. 17:22-23; dll]

Jadi berdasarkan catatan Alkitab adalah kesalahan fatal jika ada orang atau sekelompok orang yang berasumsi bahwa umat Yahudi moderen tidak mungkin meninggalkan Sabat Alkitab yang sejati. Berikut adalah catatan sejarah mengenai kisah dipindahkannya Sabat lunar Alkitab yang berdasarkan kalender Lunisolar ke hari Sabtu berdasarkan kalender Masehi.

Pada abad ke-4 Masehi, Sabat Alkitab telah dipindahkan ke hari Sabtu melalui perubahan sebuah kalender. Sabat Alkitab – telah hilang. Konstantin Agung, Kaisar Roma, menyatukan para penyembah berhala dan umat Kristen dengan meninggikan hari Minggu sebagai sebuah hari ibadah bagi kedua kelompok ini. Dia memindahkan peringatan kematian Sang Juruselamat dari peringatan Paskah Passover dalam Kalender Alkitab pada perayaan Paskah Easter hari Minggu dalam Kalender Julian.

image

Anak Konstantin, Konstantius, maju selangkah lebih jauh: dia melarang penggunaan kalender Alkitab bagi orang-orang Yahudi juga. Dalam tahun-tahun berikutnya, orang-orang Yahudi berjalan melalui “besi dan api”. Kaisar Kristen melarang perhitungan kalender Yahudi, dan tidak mengijinkan pengumuman hari-hari raya.

Masyarakat Yahudi yang tersisa telah dibiarkan berada dalam keraguan mengenai keputusan keagamaan yang paling penting: contohnya yang berkaitan dengan perayaan-perayaan agama mereka. Dampaknya kemudian adalah pembuatan sebuah kalender dan perhitungan Ibrani yang tetap oleh Hillel II.

Sama seperti Konstantin yang menjadi kekuatan di balik tindakan yang akhirnya menyebabkan hilangnya kalender Alkitabiah untuk digunakan oleh orang-orang Kristen demikian pula seorang yang lain, seorang Yahudi, bertanggung jawab untuk reaksi yang memiliki dampak yang berpengaruh sangat jauh.

Hillel II, Presiden Sanhedrin, mengadaptasi hari-hari raya tahunan ke dalam kalender Julian. Dia juga memindahkan ibadah dari hari Sabat Alkitab ke hari Sabtu mingguan planetari. Sebelum masa hancurnya kota Yerusalem, Imam Besar sudah memiliki tugas yang terkait dengan kalender.

Walaupun Sanhedrin (Mahkamah Agung Kerabian) memimpin di Yerusalem, tidak ada kalender yang tetap. Mereka akan mengevaluasinya setiap tahun untuk menentukan apakah itu harus dinyatakan sebagai tahun kabisat.” Tugas ini menjadi tanggung jawab presiden Sanhedrin ketika imam tidak bisa lagi.

“Di bawah pemerintahan Konstantius (337-362 M) penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi memuncak. . . perhitungan kalender Alkitabiah dilarang di bawah tekanan penderitaan dan penghukuman yang berat.”

Dalam reaksinya terhadap situasi ini, Hillel II, pada tahun 359 M, mengambil langkah luar biasa dengan memodifikasi kalender Alkitab kuno agar orang-orang Yahudi dengan orang-orang Kristen dapat hidup berdampingan.

“Menyatakan bulan baru melalui pengamatan bulan baru, dan tahun baru melalui datangnya musim semi, hanya dapat dilakukan oleh Sanhedrin. Pada masa Hillel II, Presiden terakhir dari Sanhedrin, orang Romawi melarang praktik ini. Oleh karena itu Hillel II terpaksa menetapkan kalender tetapnya, sehingga menjadi dasar pemberian persetujuan dari Sanhedrin terhadap semua kalender pada tahun-tahun mendatang.”

image

Dengan sistem kalender baru buatan Hillel, jemaat-jemaat yang jauh tidak lagi harus menunggu utusan dari Presiden Sanhedrin untuk mengetahui kapan bulan baru akan dimulai. Setiap komunitas selanjutnya akan dapat menentukan sendiri kapan sebuah bulan baru dimulai dan kapan sebuah bulan ke-13 akan ditambahkan.

Ketika Hillel II membuat sebuah kalender “tetap”, dia menggabungkan tahun kabisat secara permanen. Hal ini mungkin, tetapi tidak dapat dibuktikan, bahwa siklus tertentu dari tahun kabisat telah digunakan dan dipahami sebelum zaman Hillel dengan mengikuti siklus metonik 19 tahun.

”Hillel mendasarkan kalendernya pada perhitungan matematika dan astronomi [dan bukannya pada pengamatan]. Kalender ini, masih terus digunakan, dengan membuat standar panjangnya bulan dan penambahan bulan selama siklus 19 tahun, sehingga kalender lunar terkait dengan tahun matahari.”

Hillel menyatakan bulan ketiga belas untuk diselingi pada setiap tahun ke-3, 6, 8, 11, 14, 17, dan tahun ke-19 dalam siklus 19-tahun. Tapi Hillel melakukan lebih dari sekedar memperkenalkan sisipan dalam siklus 19-tahunan, yang kemungkinan besar, telah digunakan selama itu.

Dia juga mengalihkan pemeliharaan Sabat Alkitab dari hari ke-8, 15, 22 dan 29 dari bulan lunar, ke setiap hari Sabtu dari bulanan kalender Julian.

Perubahan ini masih mengharuskan aturan lain:

ATURAN PENUNDAAN

Aturan penundaan adalah sebuah rangkaian peraturan untuk mengatur kapan Bulan Baru dapat dinyatakan. Dalam kondisi tertentu, aturan penundaan, menunda pengumuman Bulan Baru dengan menambahkan sebuah hari tambahan.

Aturan Penundaan itu adalah:

  1. Tahun Baru Yahudi, Hari Raya Terompet, tidak boleh jatuh pada hari Minggu, Rabu atau Jumat.
  1. Jika Bulan Baru atau molad, untuk bulan ke7 jatuh pada hari Minggu, Rabu atau Jumat, maka Bulan Baru akan ditunda sampai hari berikutnya.
  1. Jika Molad dari bulan ketujuh dalam satu tahun yang sama terjadi pada hari Selasa pukul 3  subuh atau lebih lambat, maka Bulan Baru ditunda sampai hari Kamis.
  1. Pada sebuah tahun biasa setelah tahun kabisat, jika Molad dari bulan ketujuh terjadi setelah jam 9 pada Senin pagi, Bulan Baru ditunda sampai hari Selasa.

Mengubah hari Sabat Alkitab dari kalender Lunisolar ke hari Sabtu jelas membuat aturan penundaan dibutuhkan, sebelum zaman Hillel “memperbaiki” kalender, aturan itu tidak diperluhkan.

Menurut orang Yahudi sendiri;

“Bulan Baru itu masih tetap, dan hari Sabat awalnya adalah, tergantung pada siklus bulan”.

Ketika hari Sabat Alkitab dan hari-hari raya tahunan dihitung dengan menggunakan kalender Lunisolar, aturan penundaan itu tidak diperlukan. Hanya ketika perayaan tahunan akan dihitung dengan satu kalender, dan hari Sabat mingguan dihitung dengan kalender yang lain lagi, maka akan ada konflik yang membutuhkan aturan penundaan.

Tanpa aturan penundaan, Perayaan Tahunan akan bermasalah dengan hari Sabtu. Misalnya, jika Hari Raya Terompet (Bulan Baru pada bulan ketujuh) jatuh pada hari Minggu, maka hari terakhir dari Hari Raya Bait Suci akan jatuh pada hari Sabtu. Hitung 21 hari dari hari Minggu manapun, dan itu akan selalu jatuh di hari Sabtu. Itu akan bertentangan dengan tradisi pemeliharaan di hari terakhir perayaan itu, karena hari setelah hari terakhir Hari Raya Bait Suci selalu jatuh pada sebuah Sabat mingguan. Maka di sini dibutuhkan aturan pertama dan kedua dari aturan penundaan itu.

  1. Tahun Baru Yahudi, Hari Raya Terompet, tidak boleh jatuh pada hari Minggu, Rabu atau Jumat.
  1. Jika Bulan Baru atau molad, untuk bulan ke-7 jatuh pada hari Minggu, Rabu atau Jumat, maka Bulan Baru akan ditunda sampai hari berikutnya.

Aturan penundaan yang ketiga menjamin bahwa tahun umum yang bersangkutan tidak akan lebih lama dari 355 hari.

  1. Jika Molad dari bulan ketujuh dalam satu tahun yang sama terjadi pada hari Selasa pukul 3 subuh atau lebih lambat, maka Bulan Baru ditunda sampai hari Kamis.

Aturan penundaan yang keempat menjamin bahwa tahun umum yang mengikuti tahun kabisat tidak lebih pendek dari 383 hari.

  1. Pada sebuah tahun biasa setelah tahun kabisat, jika Molad dari bulan ketujuh terjadi setelah jam 9 pagi pada hari Senin pagi, Bulan Baru ditunda sampai hari Selasa.

Kalender “tetap” ini sangat ketat.

”Tepatnya ada empat belas pola yang berbeda yang dapat terjadi pada kalender Ibrani, yang dibedakan oleh panjangnya tahun dan hari minggu di mana Rosh Hashanah jatuh. Karena aturan yang kompleks, pola dapat terulang beberapa kali dalam perjalanan beberapa tahun, dan kemudian tidak terulang lagi untuk waktu yang lama. Tapi kalender Yahudi dikenal sangat akurat. Kalender itu tidak “kehilangan” atau “mendapatkan” beberapa waktu seperti yang terjadi pada kalender lain”.

Tindakan Hillel II ini adalah sebuah tindakan untuk bertahan hidup. Itu dibuat sebagai tanggapan terhadap penganiayaan brutal dari anak Konstantin, yaitu Konstantius.

Dengan tangannya sendiri Pemimpin itu menghancurkan ikatan terakhir yang menyatukan masyarakat yang tersebar di seluruh kerajaan Roma dan Persia. Dia lebih peduli pada kepastian kelanjutan agama Yahudi daripada martabat rumahnya sendiri, dan karena itu dia meninggalkan aturan-aturan yang karenanya nenek moyangnya. . . telah begitu dicemburui dan dicemaskan. Para anggota Sanhendrin menyukai inovasi ini.

Ketika Hillel II membuat kalender yang “tetap”, dia secara efektif memberi izin untuk orang-orang Yahudi untuk beribadah pada hari Sabtu pada seluruh waktu di masa datang. Hanya dia, sebagai Presiden Sanhendrin, yang dapat melakukan ini.

Hari ini, hampir 1.700 tahun kemudian, aksi Konstantin yng menghasilkan reaksi dari Hillel II, masih berdampak pada ratusan juta orang di seluruh dunia.

image

Karena kedua orang ini:

  1. Umat Katolik beribadah pada hari Minggu untuk menghormati hari kebangkitan. Hal ini sesuai dengan tindakan Konstantin yang merubah peringatan hari Paskah Passover yang semula ditentukan dengan kalender Lunisolar menjadi peringatan hari Paskah Easter yang ditentukan dengan menggunakan kalender matahari para penyembah berhala.
  1. Umat Yahudi meninggalkan Sabat Alkitab  dan beribadah pada hari Sabtu karena hukum Talmud membenarkan tindakan memelihara 1 hari dalam 7 hari ketika seseorang tidak tahu kapan hari Sabat yang sebenarnya tiba. (Sabat: Talmud Pasal 7)

image

  1. Kebanyakan umat Protestan bergabung dengan umat Katolik untuk beribadah pada hari Minggu, hari pertama dalam mingguan Masehi moderen, dengan asumsi bahwa itu adalah Hari Kebangkitan.
  1. Para pemelihara hari Sabat-Sabtu yang beraliran Protestan beribadah pada hari Sabtu karena itulah hari ketujuh dalam mingguan moderen dan mereka menganggap bahwa karena orang-orang Yahudi beribadah pada hari Sabtu, maka hari itu sudah pasti adalah hari Sabat Alkitab.
  1. Umat Muslim, juga, menghormati metode penanggalan masehi dengan cara pergi ke masjid untuk shalat pada hari Jumat.

Hari apa yang dikuduskan Yahushua berdasarkan Perintah Ke-4? Anda tidak bisa menemukan hari itu pada kalender Masehi! Kalender itu adalah buatan penyembah berhala. Adalah tidak mungkin untuk menemukan Sabat hari ketujuh yang sejati dengan menggunakan kalender Masehi moderen. Kalender matahari ini adalah sebuah cara perhitungan waktu agama berhala.

Pendahulunya, kalender Julian, telah dibuat oleh penganut agama berhala, untuk para penganut agama berhala yang secara resmi diterima untuk digunakan oleh gereja pada Konsili Nicea. Sabat dari masa Penciptaan tidak dapat ditemukan di kalender Masehi ini.

Kalender Julian ini kemudian diperbaiki oleh astronom Yesuit, Christopher Clavius, sesuai permintaan Paus Gregory XIII – sehingga namanya menjadi kalender Gregorian namun lebih dikenal di Indonesia dengan nama kalender Masehi. Clavius menegaskan bahwa kalender Julian (yang kemudian menjadi kalender Masehi) adalah aslinya kalender penyembah berhala, dibuat oleh penganut agama berhala dan tidak memiliki hubungan apapun dengan kalender Lunisolar Alkitab.

Dalam penjelasannya mengenai kalender Masehi, Clavius mengakui bahwa ketika kalender Julian diterima sebagai kalender gerejawi Gereja, kalender Alkitabiah telah ditolak!

Kaisar Konstantin menginginkan persatuan. Dia mencapai tujuan ini melalui paham ekumene dan melarang penggunaan kalender Alkitabiah untuk memperingati kematian Yahushua.

Hillel II menginginkan kelangsungan hidup agama Yahudi secara fisik. Dia mencapai tujuannya dengan berkompromi dengan agama berhala dan merubah kalender Alkitab.

Tindakan Konstantin, dan disertai dengan reaksi dari Hillel, telah menuntun pada asumsi pada orang banyak bahwa hari Sabtu adalah hari Sabat Alkitab dan hari Minggu adalah hari di mana Sang Juruselamat dibangkitkan.

Dengan demikian, orang-orang Kristen dan umat Yahudi telah menentukan hari-hari ibadah mereka dengan menggunakan penanggalan matahari buatan para penyembah berhala, dan mengabaikan Sabat yang sejati dari Yahuwah.

Tidak ada orang yang tetap ingin menyembah Sang Pencipta pada hari Sabat-Nya yang kudus akan menentukan hari-hari ibadah mereka dengan pembinasa keji yang membinasakan jiwa dan tidak menghormati Yahuwah ini. Hanya kalender Lunisolar dari masa Penciptaan yang dapat menentukan kapan Sabat yang sejati terjadi.

Ingat dan kuduskanlah hari Sabat [Kel. 20:8-11], singkirkan tradisi manusia. Terima hanya firman Yahuwah saja! Karena kita tidak boleh melawan Kebenaran; kita harus hidup untuk kebenaran [baca 2 Korintus 13:8, KJV].

Beribadahlah kepada-Nya pada hari Sabat Alkitab menurut metode penghitung-waktu Alkitab yang telah Dia tetapkan.

kalender alkitab kalender lunisolar

Iklan

2 thoughts on “Penyebab Yahudi Moderen Tidak Menguduskan Sabat Lunar”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s