Kalender Dirubah, Sabat Lunar Dilupakan

Pada abad ke-4 Masehi, hari Sabat Alkitab telah digantikan dengan hari Sabtu, melalui perubahan sebuah kalender. Hari Sabat Lunar Alkitab telah disingkirkan, melalui perubahan ini. Hal ini dilakukan oleh Konstantin Agung yang dikenal sebagai Kaisar Kristen pertama dari Kekaisaran Roma. Namun, faktanya dia adalah seorang penyembah berhala.

Dia mempertahankan jabatannya sebagai pemimpin negara agama dan memegang gelar ’Pontifex Maximus’, ”Paus Agung” atau ”Pengantara Agung” sampai dia meninggal dunia pada bulan Mei tahun 337 M. Konstantin adalah seorang ahli strategi yang cerdas dengan sebuah rencana politik yang berbeda.

image

Keinginan terbesarnya adalah untuk menyatukan dua kubu yang paling berpengaruh di dalam kerajaannya. Para penyembah berhala, dan umat Kristen. Dia melakukan hal ini dengan memperkenalkan satu hari raya tunggal – hari Minggu.

Kalender Julian mula-mula memiliki delapan hari per minggu. Huruf A sampai H mewakili hari-hari pada setiap minggu. Pada masa itu, setiap negara menggunakan cara-cara yang berbeda untuk menentukan penanggalan. Dan di dalam Kekaisaran Roma, ada pembagian wilayah di dalam penggunaan kalender Julian.

sejarah-kalender-masehi-3

Mingguan planetari tujuh hari telah diperkenalkan pertama kali kepada Roma pada abad pertama sebelum Masehi. Tetapi penggunaan mingguan delapan hari masih terus berlangsung selama beberapa masa, tetapi pada waktu mingguan tujuh hari secara resmi telah diadopsi oleh Konstantin pada tahun 321 SM, siklus hari pasar [delapan hari] tidak pernah digunakan lagi.

Penurunan penggunaan mingguan yang berisi delapan hari bertepatan dengan perluasan kerajaan Roma. . . . Mingguan astrologi [planetari] dan mingguan Kristen yang berisi tujuh hari yang baru saja diperkenalkan ke Roma juga menjadi semakin populer. Ada bukti yang menunjukkan bahwa mingguan bangsa Romawi yang berisi delapan hari dan dua siklus mingguan tujuh hari itu digunakan secara bersamaan selama beberapa waktu. Namun, kebersamaan dari dua irama mingguan ini sepenuhnya telah keluar dari fase satu sama lain sehingga tidak mungkin dipertahankan untuk waktu yang lama. Salah satu dari dua bentuk mingguan ini jelas harus ditinggalkan. Seperti yang kita semua tahu, mingguan yang berisi delapan harilah yang segera menghilang dari halaman sejarah untuk selamanya.

kalender tempel roma

Konstantin mengambil keuntungan dari perubahan mingguan delapan hari ke mingguan tujuh hari untuk memajukan agenda politiknya, karena tindakan penyeimbangan halus ini lebih disukai oleh kubu penganut agama berhala melebihi orang-orang Kristen.

Awalnya, Konstantin menetapkan serangkaian undang-undang untuk menghormati hari Matahari atau ’hari Minggu’. Aslinya, hari Sabtu adalah hari pertama dari mingguan planetari – hari Minggu adalah hari kedua. Konstantin mengatur ulang urutan hari-hari dengan menempatkan hari minggu pada posisi yang paling penting, sebagai hari pertama setiap minggu, dan, memindahkan hari Sabtu dan menjadikannya sebagai hari ketujuh.

Penghormatan hari Minggu adalah sesuatu yang telah dikompromikan oleh beberapa orang Kristen. Pada abad kedua, banyak umat Kristen (secara khusus di wilayah Barat Kekaisaran Roma), telah menghormati hari Minggu sebagai hari kebangkitan Juruselamat. Ini adalah awal yang dibutuhkan oleh Konstantin untuk menyatukan agama berhala dan Kekristenan.

Konstantin memerintahkan pengudusan hari Minggu bukan karena alasan rohani. Dia memerintahkan pemeliharaan, atau lebih tepatnya melarang penodaan umum terhadap hari Minggu, bukan demi Sabbatum [hari Sabat] atau Dies Domini [hari Tuhan], tetapi demi gelar astrologi dan kafir lamanya, Dies Solis [hari Minggu], sudah akrab bagi semua golongan yang ditujunya, sehingga hukum ini diberlakukan untuk para penyembah Hercules, Apollo, dan Mithras, sama seperti untuk orang-orang Kristen. Tidak ada referensi apapun dalam hukumnya yang terkait dengan perintah ke-empat, juga tidak ada kaitannya dengan kebangkitan Kristus.

Konstantin sengaja menjadikan hukum hari Minggunya bebas mengambang. Dia menginginkan agar itu diterima oleh  para penyembah berhala maupun umat Kristen.

Kondisi ini benar-benar akan dapat memajukan rancangan Konstantin karena akan memberi kehormatan khusus pada perayaan dari gereja orang-orang Kristen dan itu akan memberikan keuntungan yang tidak sedikit untuk para penganut agama berhala itu sendiri. Bahkan tidak ada bagian dalam keputusan ini yang mungkin tidak ditulis oleh para penganut agama berhala. Hukum itu memberikan penghormatan kepada dewa berhala yang telah diadopsi oleh Konstantin sebagai dewa pelindung khususnya, Apollo atau dewa Matahari. Nama hari itu sendiri sesungguhnya sudah membuat ambigu. Istilah hari Minggu (dies Solis) telah digunakan di kalangan orang-orang Kristen sama seperti di kalangan para penganut agama berhala.

Mingguan tujuh hari planetari menjadi sebuah kendaraan untuk melakukan perubahan. Bagian mingguan delapan hari Julian dan mingguan tujuh hari yang Alkitabiah telah disingkirkan untuk memperkenalkan mingguan planetari. Mingguan planetari muncul dan digunakan oleh karena visi licik dari sang Kaisar; dan, kebenarannya adalah, hal itu tidak ada kaitannya dengan mingguan Alkitab!

Kondisi seperti ini adalah waktu yang sudah matang untuk menyatukan negara dan gereja, yang masing-masing sudah saling membutuhkan. Karena kepintaran Konstantin dalam menyadari hal ini dan bertindak atasnya. Dia menawarkan perdamaian kepada gereja, asalkan gereja mau mengakui negara dan mendukung kekuasaan kekaisaran.

Hukum hari Minggu Konstantin telah menyatukan para penyembah berhala dengan banyak umat Kristen; namun, hal itu telah membangkitkan perdebatan yang berlangsung selama lebih dari seratus tahun – Mengenai kapan waktu untuk merayakan kematian Sang Juruselamat.

Banyak umat Kristen di bagian timur kerajaan pada masa itu beribadah pada hari Sabat Alkitab dan tetap merayakan perayaan-perayaan tahunan Yahuwah; perayaan-perayaan ini ditentukan berdasarkan kalender Alkitab. Bahkan mereka yang beribadah pada hari minggu menggunakan kalender Alkitab untuk menentukan hari Paskah Passover!

Tensi terus meningkat karena orang-orang yang rohani berusaha untuk beribadah dengan baik dalam terang kalender-kalender yang berbeda. Sejak abad kedua Masehi telah terjadi sebuah perbedaan pendapat mengenai tanggal untuk merayakan hari Paskah (Paskah Easter) peringatan hari kasih-Nya (kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya).

Pelaksanaan yang paling kuno telah merayakannya pada tanggal keempat belas (tanggal Paskah Passover), kelima belas, dan hari keenam belas bulan lunar terlepas dari hari dalam mingguan [Julian] dimana tanggalnya mungkin jatuh dari tahun ke tahun.

Para uskup Roma, yang berkeinginan untuk meningkatkan pemeliharaan hari Minggu sebagai hari perayaan bagi gereja, memutuskan bahwa perayaan tahunan harus selalu diadakan pada hari Jumat, hari Sabtu, dan hari Minggu setelah hari yang keempat belas dari bulan lunar. . . .  Pertikaian ini telah berlangsung hampir dua abad, sampai Konstantin campur tangan atas nama para uskup Roma dan melarang praktek kelompok yang lain.

Eusebius dari Kaisarea mengakui bahwa gereja-gereja di Asia telah lama merayakan Paskah Passover pada tanggal 14 bulan Abib.

”Paroki dari seluruh Asia, seperti dari tradisi yang lebih tua, menyatakan bahwa pada hari keempat belas bulan, hari di mana orang-orang Yahudi diperintahkan untuk mengorbankan anak domba, harus diperingati sebagai hari raya Paskah Passover bagi sang Juruselamat …  tanpa memandang hari itu jatuh pada hari apapun di dalam mingguan [Julian]. Tapi itu bukanlah kebiasaan dari semua gereja-gereja di seluruh dunia untuk melakukan hal ini pada zaman sekarang …”

Siklus mingguan tidak terputus dari kalender Julian berarti bahwa Paskah Passover Alkitab pada tanggal 14 bulan Abib dapat jatuh pada hari mana saja di dalam mingguan Julian. Dampaknya, 16 Abib, hari di mana Sang Juruselamat Bangkit, tidak selalu jatuh pada hari Minggu.

Tidak ada perdebatan mengenai kapan waktu Kebangkitan sebenarnya terjadi, karena semua orang tahu bahwa itu terjadi pada tanggal 16 Abib dalam Kalender Lunisolar – Persoalannya adalah: ”Kapan kita merayakannya?”

Tanggal-tanggal ditetapkan dengan menggunakan kalender, jadi sebenarnya ini adalah sebuah perdebatan mengenai kalender mana yang harus digunakan untuk menentukan Perayaan itu.

Untuk menyatukan orang-orang Kristen dan para penyembah berhala, perayaan Penyaliban dan Kebangkitan harus dipindahkan dari Kalender Lunisolar Alkitab ke kalender matahari Julian.

Konstantin menyudahi perdebatan ini pada Konsili Nicea tahun 325 M. Dia membuat peraturan bahwa ”perhitungan Yahudi” yang menggunakan Kalender Lunisolar tidak boleh lagi digunakan untuk menentukan tanggal-tanggal ini.

Berikut adalah kutipan pernyataannya:

“Sebab adalah merupakan tindakan diluar kepantasan jika pada perayaan-perayaan Paskah Easter yang paling kudus ini kita harus mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang Yahudi. Untuk selanjutnya, jangan sampai kita memiliki kesamaan dengan orang-orang najis ini; Juruselamat kita telah menunjukkan kepada kita jalan yang lain. Hal ini memang akan terlihat konyol jika orang-orang Yahudi dapat menyombongkan diri bahwa kita tidak dapat merayakan Paskah tanpa bantuan dari aturan-aturan mereka (perhitungan-perhitungan)”.

Dari saat itu, pengorbanan Juruselamat tidak akan lagi dirayakan pada tanggal 14, 15, dan 16 Abib pada kalender Lunisolar; perayaan seperti ini telah dipindahkan kepada Paskah Easter hari Minggu pada Kalender Julian – yang dapat mengambang dari tanggal 22 Maret sampai 25 April!

Konstantin mencapai tiga hal yang masih tetap berdampak hari ini:

  1. Membuat standar mingguan tujuh hari planetari, yang membuat hari Minggu menjadi hari pertama dalam setiap minggu;
  1. Meninggikan Paskah Easter dan menjamin bahwa Paskah Passover yang sejati dan Paskah Easter kafir tidak akan pernah jatuh pada hari yang sama;
  1. Meninggikan hari Minggu sebagai hari ibadah bagi para penyembah berhala dan orang-orang Kristen sekaligus.

Efek jangka panjang yang timbul membuat “Paskah Easter hari Minggu” di mata orang-orang Kristen dianggap sebagai Hari kebangkitan Kristus. Akibat yang wajar dari penataan ulang perhitungan waktu ini adalah lahirnya anggapan bahwa hari sebelum Paskah Easter hari Minggu, yaitu hari Sabtu, adalah hari Sabat sejati yang kekal dari Alkitab. Ini adalah makna sebenarnya dari “hukum hari Minggu” Konstantin dan hal itu telah meletakkan dasar untuk asumsi moderen bahwa siklus mingguan tidak terputuslah yang selama ini ada.

Tindakan-tindakan Konstantin sebenarnya menyenangkan agama berhala. Namun, imam-imam Roma yang korup, yang menginginkan kekuasaan yang lebih besar, mampu menyajikan tindakan ini sebagai aksi yang menguntungkan bagi orang-orang Kristen!

Untuk mendamaikan para penyembah berhala dengan Kekristenan yang sedikit, Roma, mengusahakan kebijakan umum, mengambil tindakan-tindakan untuk menggabungkan perayaan penyembah berhala dan perayaan Kristen, dan melalui penyesuaian kalender yang sulit namun terampil, tidak lagi ditemukan masalah, secara umum, untuk mengabungkan penyembahan berhala dengan Kekristenan  dan sekarang keduanya sudah jauh tenggelam dalam penyembahan berhala.

Anak Konstantin, Konstantius, membawa tindakan ayahnya satu langkah lebih jauh dan juga melarang penggunaan kalender Alkitab oleh orang-orang Yahudi juga! “Adalah sudah lebih tidak mungkin lagi di bawah pemerintahan Konstantius untuk menerapkan kalender yang lama”.

Hal ini juga berdampak pada orang-orang Kristen kerasulan, yang tetap beribadah pada hari Sabat Kuno. Konstantin adalah seorang imam kafir yang memiliki sebuah agenda politik. Melalui sebuah pengaturan kalender yang cerdas, dia menyatukan para penyembah berhala dan orang-orang Kristen. Sabat lunar Alkitab yang sejati milik Sang Pencipta kemudian menghilang dan dilupakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s