Memahami: Taurat, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Taurat dalam bahasa ibrani disebut torah yang artinya adalah hukum, undang-undang, peraturan, petunjuk, pengajaran. Torah berasal dari akar kata “yarah” yang artinya memberi pengajaran, mengajarkan atau menunjukkan. Jadi kata torah dapat bermakna “ajaran” atau “instruksi”, boleh ajaran dari manusia atau ajaran dari Yahuwah. Torah juga adalah nama lain dari Pentateukh (Lima kitab Musa), tetapi torah tidak selalu berarti Pentateukh seperti yang selalu dianggap oleh banyak orang.

Jadi meskipun kebanyakan orang berpikir tentang hukum Musa ketika mereka mendengar kata Taurat, namun sebenarnya kata taurat ini merupakan penjabaran dari banyak hukum, banyak peraturan dan banyak undang-undang tertentu, dan didalamnya termasuk perjanjian yang kekal yaitu Sepuluh taurat Yahuwah. Namun penting untuk dipahami bahwa Sepuluh taurat Yahuwah terpisah dari semua hukum lainnya, meskipun dalam ajaran orang Yahudi “sepuluh perintah” ini digabungkan dan menjadi bagian dalam semua pengajaran mereka. Sepuluh Perintah ini berdiri sendiri sebagai perjanjian abadi antara sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Sepuluh perintah ini adalah “Hukum Moral Yahuwah”.

Hal ini ditunjukkan oleh fakta-fakta bahwa: Sepuluh Firman disampaikan secara langsung oleh Yahuwah sendiri tanpa perantara (Ulangan 4:12, Keluaran 20:22). Penulisan Sepuluh Firman dilakukan oleh Yahuwah sendiri pada dua buah loh batu (Keluaran 31:18, Ulangan 4:13), dan Yahuwah secara khusus memerintahkan pembuatan Tabut Perjanjian untuk menyimpan Sepuluh Perintah ini (Keluaran 25:10-22).

image

Hukum moral Yahuwah ini telah ditetapkan pada masa penciptaan dan tidak akan pernah usang dimakan waktu. Hukum inilah yang ditulis ulang dan dibacakan oleh Musa dalam Ulangan 5:6-21 dan juga dicatat dalam Perjanjian Baru seperti di Roma 13:9, 1 Kor. 7:19, Ibrani 4:8-9, dll). Hukum Abadi ini disimpulkan sebagai hukum yang utama dan yang terutama dalam Ulangan 6:4 dan juga dinyatakan kembali oleh Yahushua dalam Markus 12:29-31.

Hukum Musa adalah hukum yang didiktekan kepada Musa oleh Yahuwah dari gunung setelah Dia menyampaikan langsung Sepuluh Firman kepada orang-orang Israel. Dia juga memberikan Musa lebih banyak ketetapan yang dituliskan dalam kitab hukum ketika Yahuwah memanggil Musa ke atas gunung. Garis besarnya terdapat dalam Keluaran 20:22 sampai pada Keluaran 23:33. Buku hukum Musa ini diletakkan di samping Tabut perjanjian yang di dalamnya ada sepuluh taurat Yahuwah (baca: Ulangan 31:26), jadi pemisahan antara taurat Yahuwah dan taurat Musa adalah sangat jelas.

Memahami: Taurat, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Penyebutan Taurat di dalam Alkitab berbahasa Indonesia sebenarnya kurang tepat, karena Taurat dalam Alkitab berbahasa Indonesia diberi nama “hukum taurat”, jadi konotasinya menjadi “taurat-taurat”. “hukum taurat” versi bahasa Indonesia ini juga mengakibatkan banyak orang tidak dapat membedakan mana hukum yang hanya berupa tradisi manusia dan mana hukum kekal Yahuwah.

PERJANJIAN

Kata perjanjian dalam Tanakh diterjemahkan ke dalam kitab perjanjian lama berbahasa Ingris menjadi covenant yang berasal dari kata beriyth (H#01285) yang artinya adalah: perjanjian-Ku, perjanjian-Nya, perjanjian-Mu, perjanjian ini adalah perjanjian antara Yahuwah sang Pencipta dengan kita umat-Nya, perjanjian Yahuwah adalah perjanjian yang abadi, tidak akan lekang oleh waktu. Kata beriyth ini dialihbahasakan ke kitab perjanjian baru berbahasa Yunani menjadi diatheke (G#1242) yang artinya adalah penggantian posisi, pengaturan ulang, atau pewarisan, kata diatheke ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa inggris yang ada di dalam KJV menjadi testament yang artinya adalah wasiat, karena KJV menjadi patokan banyak terjemahan baru, maka kata testament ini akhirnya menjadi patokan banyak pengajar theologia zaman sekarang.

image

Perubahan kata dari covenant menjadi testament membuat bagian utama dalam sebuah kontrak atau perjanjian antara dua pribadi atau lebih (dalam hal ini: Yahuwah sebagai Pencipta dan kita sebagai umat-Nya) menjadi hilang. Efek dari perubahan ini mengakibatkan hukum yang terdapat dalam kitab Tanakh (perjanjian lama) dengan hukum yang ada dalam kitab perjanjian baru menjadi nampak seperti dua hal yang berbeda, padahal sejatinya hukum dalam kedua perjanjian ini adalah sama, hukum itu adalah hukum kekal dari Yahuwah yang ditetapkan pada masa penciptaan untuk seluruh umat manusia dan hukum inilah yang dikumandangkan kepada orang Israel di atas gunung Horeb di dataran Sinai.

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Perjanjian lama sebenarnya adalah hukum-hukum Musa yang sebagian besar terdapat dalam kitab Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Jadi perjanjian lama bukanlah kitab-kitab suci dari Kejadian sampai Maleakhi seperti yang selama ini disangkakan orang.

Kejadian sampai Maleakhi adalah koleksi buku-buku dari kitab berbahasa Ibrani, sama seperti Matius sampai dengan Wahyu adalah koleksi buku dari kitab-kitab berbahasa Yunani dan itu bukanlah perjanjian baru.

Perjanjian baru adalah pemulihan perjanjian yang kekal yang telah diserong oleh mereka yang berada di dalam masa perjanjian lama (baca Yeh. 16:60,62; Yer. 31:33-34; Ibr. 10:16). Hukum kekal inilah yang disampaikan oleh Yahushua HaMashiach dalam Matius 22:37-40, dan yang ditegaskan dalam Roma 7:6 untuk dilakukan dengan iman di dalam roh dan bukan sekedar berdasarkan ketaatan secara daging pada huruf-huruf (ayat) dari perintah itu.

Jadi, “perjanjian baru” telah ada di dalam “perjanjian Lama” yaitu dalam kitab Yeremia pasal 31 dan kitab Yeheskiel pasal 16. Dan perjanjian baru itu adalah penempatan Taurat Yahuwah dalam hati manusia yang mau menjadi umat-Nya, dan perjanjian ini disahkan dengan darah Yahushua sendiri, menjadi perjanjian yang kekal. Jika seseorang hanya melakukan Taurat Yahuwah dan tidak menerima darah Yahushua maka orang itu masih ada dalam perjanjian yang lama, dan mereka yang menolak Taurat Yahuwah dengan dalih telah menerima darah Yahushua tidak perna benar-benar berada dalam perjanjian yang baru, karena mereka tetap memberontak sama seperti mereka yang diam dalam perjanjian yang lama, senang memberontak dan membantah.

Kesimpulan

Taurat Yahuwah dan Perjanjian-Nya itu kekal, langit dan bumi akan berlalu tapi taurat dan perjanjian-Nya tetap! kita perlu melakukannya dan hidup di dalamnya bukan supaya kita diselamatkan tetapi karena kita sudah diselamatkan!

Dialah Yahuwah, Elohim kita, diseluruh bumi berlaku penghukuman-Nya. Dia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, dan dijadikan-Nya itu menjadi perjanjian yang kekal [Mazmur 105: 7,8,10].

Dan semua orang yang tetap melanggar perjanjian abadi ini akan dibinasakan diakhir zaman [Yesaya 24:5,6].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s